Kamis, 09 Januari 2014

Keluarga Kedua



Menurut pengertian sempitnya keluarga (bahasa Sanskerta: "kulawarga"; "ras" dan "warga" yang berarti "anggota") adalah lingkungan yang terdapat beberapa orang yang masih memiliki hubungan darah.(http://id.wikipedia.org/wiki/Keluarga)
Menurut saya keluarga tidak hanya yang memiliki hubungan darah. Karena, ketika kita harus meninggalkan keluarga sendiri di kampung halaman dan pindah ke suatu tempat. Maka di sana akan tercipta sebuah kelompok kecil dari lingkungan baru tersebut, lalu menciptakan suasana yang apabila telah terjalin bertahun-tahun akan seperti berada di lingkungan kampung halaman sendiri.
Pengalaman saya pribadi setelah berada di kota Bandung, keluarga kedua saya adalah teman-teman kelas yang saya miliki di perguruan tinggi tempat saya belajar saat ini.
Bersama kawan-kawan seperjuangan ini saya bisa mencurahkan segala yang memang saya ingin lakukan. Bersama mereka, bercanda sudah bukan hal yang akan menyakiti hati satu sama lain karena kami sedikit banyak sudah memahami karakter dari masing-masing orang di kelas. walau terkadang beradaptasi bagi keseluruhan mengerti sifat masing-masing setiap anggota kelas tidak sejalan dengan harapan.
Ketika berada di kampus, momen-momen selalu saja tercipta secara tidak disengaja. baik itu dari gurauan maupun berupa photo-photo "alay" seperti gambar yang ada di atas. Selain hal-hal konyol yang dilakukan di kampus, kami juga mengadakan tour kecil-kecilan. Seperti pergi ke rumah salah seorang teman dan disana kami bermain uno, masak-masak, makan bersama, seperti biasa tidak terlupakan ' saling meledek'. Karena menurut saya, di kelas saya itu semakin mengejek semakin erat hubungan kekeluargaannya.
Dari hal-hal kecil yang saya rasakan ketika berada diantara kawan-kawan seperjuangan itu, saya benar benar merasakan kehangatan seperti saya sedang berada diantara kumpulan kakak adik di kampung halaman saya sendiri. Sayangnya, mereka tidak selalu ada 24 jam di samping saya seperti ketika saya sedang berada di kampung halaman saya. Tetapi, saat saya benar-benar membutuhkan kehadiran mereka, mereka selalu menemani saya walau sebatas dunia maya.
Seperti saat ini, ketika di tempat saya membuat cerita ini saya sendirian, beberapa kawan saya tetap setia menemani melalui chat di salah satu aplikasi internet,
Saya merasa menjadi orang yang sangat beruntung karena saya dipertemukan dengan orang-orang yang berbeda karakter namun mampu bersatu menjadi sebuah keluarga baru walaupun dalam kasus ini hubungan keluarga yang terjalin bukan karena ikatan darah melainkan ikatan yang setiap detiknya terangkai dan saya berharap ikatan ini semakin lama semakin kuat sehingga walaupun sudah berpisah, saya dan kawan-kawan ini tetap menjadi satu keluarga yang tak terpisahkan oleh jarak dan waktu.

aamiin ...

Minggu, 29 Desember 2013

Dimulai dari hal kecil

jalan tol di Jepang
Jalan tol adalah suatu jalan alternatif untuk mengatasi kemacetan lalu lintas ataupun untuk mempersingkat jarak dari satu tempat ke tempat lain. Bukan hanya di negara maju, di beberapa daerah di Indonesia juga sudah memiliki fasilitas jalan tol. Kebayakan jalan tol ini di bangun di kota-kota besar, contohnya Ibu kota Jakarta. Jalan tol di setiap negara tentunya memiliki peraturan lalu lintas yang berbeda. Disini saya akan sedikit membandingkan bagaimana keadaan jalan tol di tanah air tercinta, dengan keadaan jalan tol di negeri sakura.

1. Jalan tol yang seharusnya menjadi jalan bebas hambatan dari macetnya lalu lintas ibu kota, belum sesuai dengan sebutannya untuk daerah-daerah tertentu. Karena pengguna jalan tol di Indonesia diperkirakan lebih banyak di bandingkan negeri sakura yang mana jalan tol memang menjadi satu-satunya jalan alternatif bebas macet serta alternatif agar waktu yang di gunakan untuk mencapai suatu tempat menjadi singkat.

2. Jalan tol di negeri sakura ini ternyata memakai penyadap suara. Sehingga suara-suara yang di timbulkan dari kendaraan tidak akan menyakiti telinga baik bagi pengguna lain maupun pemilik kendaraan. Bukan hanya digunakan di jalan tol, tetapi penyadap suara juga di gunakan di setiap jalan di seluruh daerah di negeri matahari ini.

3. Bahayanya mengambil barang yang tak sengaja dijatuhkan dari kendaraan ketika di jalan tol oleh pengguna jalan, akan sangat dirasakan di negara kita ini. Kebiasaan para pengguna jalan di tanah air kita, yaitu selalu seenaknya menggunakan fasilitas tanpa mengindahkan peraturan yang ada. Padahal, peraturan lalu lintas diadakan demi menjaga keselamatan bersama. Di negeri yang memiliki 4 musim ini, jika pengguna kendaraan menjatuhkan benda berharga, ataupun hanya sebuah korek api, jika kita membutuhkannya, kita hanya tinggal menelpon ke bagian pengelola jalan ( kalau di Indonesia : jasa marga ), mengatakan dimana benta terjatuh, lalu memberi tahu dimana alamat kita, maka petugas akan mengantar barang tersebut ke tempat tinggal kita.

Negara maju selalu memperhatikan hal-hal kecil yang di negara kita, hal kecil tersebut bisa dikatakan tidak dilirik oleh sebagian besar warganya. Sehingga peraturan-peraturan besar yang diberlakukanpun bisa jadi hanya sekedar dilihat tetapi tidak dijalankan. Baik oleh masyarakat maupun para pembuat peraturan tersebut.
Jadi, kapankah tanah air tercinta kita ini mampu menyelaraskan diri, meskipun dari hal kecil yang sesungguhnya mampu membuat perubahan besar?
Itulah PR para penerus bangsa yang sudah seharusnya memikirkan bagaimana negara kita beberapa tahun mendatang.